Home > Fiqih > BAHASAN FIQIH BAG II – FARDHU-FARDHU WUDHU[1]

BAHASAN FIQIH BAG II – FARDHU-FARDHU WUDHU[1]

 Kata fardhu pada wudhu sama artinya dengan kata rukun pada sholat.  Rukun adalah perbuatan yang hukumnya wajib dilakukan dan menjadi bagian utuh dari rangkaian ibadah. Sedangkan syarat adalah bagian ibadah yang wajib dilakukan namun bukan bagian dari rangkaian gerakan ibadah

 

Jumlah Fardhu  Wudhu

Jumlah fardhu wudhu menurut madzhab syafi’i ada 6 perkara. Demikian dikatakan dalam kitab safinatunnajah dan kifayatul akhyar yang sedang menjadi pembahasan kita. Para ulama madzhab berbeda pendapat mengenai jumlah fardhu wudhu. Berikut ini tabel perbandingan jumlah fardhu wudhu menurut para ulama madzhab[2] :

 

Fardhu

Hanafi

Maliki

Syafi’i

Hanbali

Niat

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Membasuh Wajah

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Membasuh Tangan

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Mengusap Kepala

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Membasuh Kaki

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Tertib

Fardhu

Fardhu

Muwalat

Fardhu

Fardhu

Ad-Dalk

Fardhu

JUMLAH

4

7

6

7

 

1)      Niat

Niat secara etimologi adalah  القصد“ sengaja” atau “menyengaja” sedangkan menurut  istilah syara’ yaitu :

 

قصد الشىء مقترنا بفعله

Artinya : Menyengaja melakukan sesuatu yang diiringi dengan tindakan.

Niat wudhu’ adalah ketetapan di dalam hati seseorang untuk melakukan serangkaian ritual yang bernama wudhu’ sesuai dengan apa yang ajarkan oleh Rasulullah SAW dengan maksud ibadah. Sehingga niat ini membedakan antara seorang yang sedang memperagakan wudhu’ dengan orang yan sedang melakukan wudhu.

 

Hukum niat adalah wajib menurut jumhur ulama, berdasarkan Hadits Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat[3].

 

Waktu niat dalam wudhu yaitu di saat pertama kali membasuh bagian wajah, karena membasuh wajah merupakan fardhu pertama wudhu jenis perbuatan (yang wajib dilakukan).

 

Orang yang berwudhu hendaklah meniatkan salah satu dari tiga hal berikut :

a)      Berniat menghilangkan hadats atau bersuci dari hadats

b)      Berniat agar diperbolehkan Sholat atau hal ibadah lain yang tidak di perbolehkan kecuali dalam keadaan suci

c)      Berniat untuk menunaikan fardhu wudhu atau kewajiban wudhu walaupun yang berniat adalah anak kecil

 

 

Jika ada orang yang hanya berniat “bersuci” saja dan tidak meniatkan “bersuci dari hadats” maka menurut pendapat yang shahih niatnya tidak cukup. Sebab bersuci adakalanya dari hadtas dan adakalanya dari najis.[4]

 

Jika orang yang memiliki penyakit, seperti orang beser (kencing terus-terusan), atau buang angin terus menerus atau wanita yang mustahadhoh, maka niat wudhunya adalah untuk membolehkan (istibahah) dari hal-hal yang menghalangi. Tidak sah jika ia berniat untuk menghilangkan hadats, sebab hadats orang tersebut terus menerus dan tidak hilang.

 

 

2)     Membasuh Wajah

Membasuh wajah merupakan fardhu zhahir yang pertama dalam wudhu. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

 

Artinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu (QS: Al Maaidah ayat 6)

 

Batasan wajah adalah daerah muka yang terletak antara tempat tumbuhnya rambut kepala hingga bagian bawah dagu (tulang rahang bawah)  untuk ukuran panjangnya, dan daerah muka yang terletak antara dua telinga untuk ukuran lebarnya. [5]

Termasuk juga bagian dari wajah adalah rambut-rambut yang tumbuh di bagian muka yaitu alis, bulu mata, jenggot, jambang(cambang), kumis, bulu yang tumbuh di pipi. Rambut yang tumbuh di muka di bagi menjadi dua :

a)      Rambut-rambut yang tumbuh tidak keluar dari perbatasan wajah, seperti alis, kumis, bulu mata atau cambang. Jika tidak lebat maka wajib dibasuh luar dan dalam sampai kulitnya, jika tebal maka hanya wajib di basuh bagian luarnya saja

b)     Rambut-rambut yang tumbuh keluar dari batas wajah seperti jenggot atau kemungkinan cambang dan rambut lainnya hanya di wajibkan membasuh luarnya saja. Adapun menyela-nyela jenggot hukumnya sunnah saja.

Ukuran tebal adalah rambut yang menutupi kulit ketika berhadapan dengan orang lain[6]. Juga termasuk wajah apa yang Nampak kemerah-merahan dari bibirnya.

 

3)     Membasuh Tangan Sampai kedua siku

Pembasuhan pada bagian ini termasuk  juga kedua telapak tangan dan kedua lengan. Sesuai dengan firman Allah SWT :

وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

Artinya : Dan kedua tangan kalian sampai siku-siku

 

Termasuk kepada bagian ini adalah, melakukan basuhan sampai dengan siku atau daerah sekitar itu bagi yang tidak memiliki siku. Sebab kata ( إلى ) dalam ayat itu adalah lintihail ghayah. Selain itu karena yang disebut dengan tangan adalah termasuk juga sikunya. Hal ini juga didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Zabir ra. Beliau berkata :

رايت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يدير الماء على المرافق (رواه الدّارقطنى والبيهقي)

 

Artinya : Saya melihat Rosulalloh SAW memutarkan air pada siku tangannya (HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi)

 

Pada bagian ini juga wajib meratakan air ke seluruh rambut (bulu) yang tumbuh dan kulit. Sehingga sekiranya ada kotoran dibawah kuku yang menghalangi untuk sampainya air ke kulit maka tidak sah wudhunya.

Yang dimaksud mirfaq adalah letak pertemuan tulang lengan dan tulang bahu. [7]. Jika tangan terputus maka basuhlah yang tersisa darinya.

 

Jumhur ulama juga mewajibkan untuk menggerakgerakkan cincin bila seorang memakai cincin ketika berwudhu, agar air bisa sampai ke sela-sela cincin dan jari. Namun Al- Malikiyah tidak mengharuskan hal itu

 

 

 

 

 

4)     Mengusap Sebagian Kepala

Dengan dasar firman Allah SWT :

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

Artinya : Dan sapulah kepalamu (QS-Al Maidah : 6)

 

Yang dimaksud dengan mengusap adalah meraba atau menjalankan tangan ke bagian yang diusap dengan membasahi tangan sebelumnya dengan air. Sedangkan yang disebut kepala adalah mulai dari batas tumbuhnya rambut di bagian depan (dahi) ke arah belakang hingga ke bagian belakang kepala. Yang dimaksud disini adalah bukan membasuh seluruh kepala tetapi hanya sebagian kepala saja. Berdasarkan hadits :

 

عن انس قال : رايت رسول الله يتوضأ وعليه عمامة قطريّة فأدخله يداه تحت العمامة فمسح مقدّم رأسه ولم ينقد العمامة (رواه أبو داود)

Artinya :  Dari Anas bin Malik ia berkata,  aku melihat Rosulallah SAW berwudhu’ padahal ia memakai surban Qithriyyah, lalu ia memasukan tangannya dari bawah sorbannya, lalu ia mengusap bagian depan kepalanya dan tidak melepaskan sorbannya (HR. Abu Daud) [8]

 

Dikuatkan juga oleh hadits dari sahabat Mughirah r.a. bahwa Rosulullah SAW pernah berwudhu dan mengusap ubun-ubunnya serta surban dan kedua muzah (sepatu tinggi). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim[9]. Adapun syarat rambut yang di usap haruslah rambut yang tidak keluar dari batas kepala, jika dipanjangkan sekalipun seperti rambut keriting.

 

Ikhtilaf Ulama :

 

Al-Hanafiyah mengatakan bahwa yang wajib untuk diusap tidak semua bagian kepala, melainkan sekadar sebagian kepala. Yaitu mulai ubun-ubun dan di atas telinga.

 

Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa yang diwajib diusap pada bagian kepala adalah seluruh bagian kepala. Bahkan Al-Hanabilah mewajibkan untuk membasuh juga kedua telinga baik belakang maupun depannya. Sebab menurut mereka kedua telinga itu bagian dari kepala juga

 

Asy-syafi`iyyah mengatakan bahwa yang wajib diusap dengan air hanyalah sebagian dari kepala, meskipun hanya satu rambut saja. Dalil yang digunakan beliau adalah hadits Al-Mughirah : Bahwa Rasulullah SAW ketika berwudhu` mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya (sorban yang melingkari kepala), seperti saya sebutkan sebelumnya.

 

5)     Membasuh Kaki Hingga Mata Kaki

 

Berdasarkan firman Allah SWT :

 

وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

 

Artinya : dan (basuh lah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki (QS-Almaidah:6)

 

Kata arjula dibaca manshub menunjukan kewajiban membasuh (cuci) kaki sampai mata kaki. Karena taqdirnya adalah : Waghsiluu arjulakum.

 

Imam nawawi didalam syarah muslim berkata : Para ulama sepakat mengenai apa yang dimaksud dua mata kaki, yaitu dua tulang yang Nampak menonjol diantara betis dan telapak kaki, dan pada tiap-tiap satu kaki terdapat dua mata kaki.

 

Kewajiban membasuh kedua kaki sampai mata kaki adalah muthlak, kecuali bagi orang yang berniat memabus muzah (sepatu tinggi). Wajib membasuh seluruh kedua kaki sampai mata kaki dengan merata dan air itu juga harus merata keseluruh kulit dan rambut yang tumbuh, termasuk pecahan-pecahan kulit. Dan wajib menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit.

 

 

 

 

6)     Tertib

Kefardhuan tertib ini di ambil dari ayat Al-Qur an surat Al-Maidah tersebut diatas karena makna waw nya lafadz yang di ‘athofkan tersebut bermakna tertib. Dan kefardhuan tersebut juga diambil dari perbuatan Rosulullah SAW sebab tidak pernah terdengar oleh kita, melainkan cara wudhu Rosulullah pasti dengan tertib.

 

Yang dimaksud dengan tartib adalah mensucikan anggota wudhu secara berurutan mulai dari yang awal hingga yang akhir. Maka membasahi anggota wudhu secara acak akan menyalawi aturan wudhu.

 

Ikhtilaf Ulama

 

Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah tidak merupakan bagian dari fardhu wudhu`, melainkan hanya sunnah muakkadah. Akan halnya urutan yang disebutan di dalam Al- Quran, bagi mereka tidaklah mengisyaratkan kewajiban uruturutan. Sebab kata penghubunganya bukan tsumma( ثم ) yang bermakna : ‘kemudian’ atau ‘setelah itu’

 

Namun As-Syafi`i dan Al-hanabilah bersikeras mengatakan bahwa tertib urutan anggota yang dibasuh merupakan bagian dari fardhu dalamwudhu`. Sebab demikianlah selalu datangnya perintah dan contoh praktek wudhu`nya Rasulullah SAW. Tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau berwudhu` dengan terbalik-balik urutannya. Dan membasuh anggota dengan cara sekaligus semua dibasahi tidak dianggap syah.

 

Tambahan :

 

Muwalat (tidak terputus) maksudnya adalah tidak adanya jeda yang lama ketika berpindah dari membasuh satu anggota wudhu` ke anggota wudhu` yang lainnya. Ukurannya menurut para ulama adalah selama belum sampai mengering air wudhu`nya itu

 

Ad-dalk adalah mengosokkan tangan ke atas anggota wudhu setelah dibasahi dengan air dan sebelum sempat kering. Hal ini tidak menjadi kewajiban menurut jumhur ulama, namun khusus Al-Malikiyah mewajibkannya.

 

Sebab sekedar menguyurkan air ke atas anggota tubuh tidak bisa dikatakan membasuh seperti yang dimaksud dalam Al-Quran.

 

 

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 


[1] Disampaikan Pada Pengajian Kaum Ibu RT 03 dan Masjid Al Imam Bukhori

[2] Al-fiqhu ‘ala madzhabil khomsah – Muhamad Jawad Mughniyah

[3] Hadits Riwayat Bukhori-Muslim

[4] Kifayatul akhyar bab fardhu wudhu

[5] Kifayatul Akhyar

[6] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili-Alfiqhus Syafii Al Muyassar

[7] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili-Alfiqhus Syafii Al Muyassar

[8] Nailaul Authar – Ibnu Taymiyah

[9] Kifayatul Akhyar – Taqiyudin Al-Husaini

Categories: Fiqih
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: