Home > Pengajian Umum > BAHASAN RUKUN ISLAM – KEWAJIBAN BERHAJI [1]

BAHASAN RUKUN ISLAM – KEWAJIBAN BERHAJI [1]

Definisi

Haji secara etimologi/bahasa artinya “tujuan”. Sedangkan menurut istilah atau syara’ adalah pergi menuju Ka’bah Baitullah untuk melakukan berbagai ibadah yang diperintahkan oleh syariat atau bertujuan melaksanakan serangkaian manasik pada waktu tertentu.

Sedangkan umroh secara etimologi/bahasa adalah “tambahan”, sedangkan menurut istilah/syara’ yaitu menuju baitullah untuk melaksanakan ibadah/manasik tertentu.  

Dasar Pensyariatan

Hukum menunaikan haji adalah Fardu ‘ain bagi yang telah memenuhi persyaratan dan belum pernah menunaikannya dan Sunnah bagi yang sudah pernah melaksanakannya.Haji dan Umroh hanya wajib dilaksanakan satu kali seumur hidup, kecuali jika bernadzar. Dasar kewajibannya :

 

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

 

Artinya Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS; Ali Imron 97)

Juga Firman Allah SWT dalam surat Al-Hajj ayat 27-28.

 

َعن أبي عـبد الرحمن عبد الله بن عـمر بـن الخطاب رضي الله عـنهما ، قـال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسـلم يقـول : بـني الإسـلام على خـمـس : شـهـادة أن لا إلـه إلا الله وأن محمد رسول الله ، وإقامة الصلاة ، وإيـتـاء الـزكـاة ، وحـج البيت ، وصـوم رمضان

 

Artinya : Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anhuma berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda:  “Islam didirikan diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah secara benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan”. [HR Bukhari-Muslim]

Perbedaan Haji dan Umroh

Antara haji dan umroh adalah berbeda. Perbedaannya bisa kita lihat dari 2 sisi yaitu :

1)      Dari segi waktu pelaksanaan;  ibadah haji hanya boleh dilakukan  pada waktu-waktu yang telah ditentukan yaitu bulan Dzul Hijjah. Sedangkan Umroh dapat dilakukan kapan saja dalam satu tahun.

2)      Dari segi manasik, dalam ibadah haji terdapat wukuf di arafah, mabit di mudzdalifah dan di mina, melempar jumrah. Sedangkan umrah, hal-hal di atas tidak perlu dilakukan. Umrah hanya terdiri: niat ihram, thowaf dan sai serta tahallul.

Orang yang menunaikan haji pasti melaksanakan umroh, karena Umroh merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Haji, sedangkan tidak setiap orang Umroh melaksanakan Haji.

 

Ukuran Mampu Haji

 

Dikatakan dalam hadits :

عن انس رضي الله عنه قال : قيل يارسول الله : ماالسّبيل ؟ قال الزّاد والرّاحلة (رواه الدّارقطني)

 

Artinya : “Dari Anas Bin Malik RA, ia berkata: ditanyakan kepada Rosulullah SAW apa yang dimaksud sabiil[2] , beliau menjawab dalam sabdanya : ialah cukupnya bekal dan amannya perjalanan” (HR. Ad-daruquthni)[3]

Peringatan Rosulullah SAW terhadap orang yang mampu menunaikan haji tetapi tidak melaksanakan kewajiban haji.

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa tidak tertahan oleh kebutuhan mendesak, atau sakit yang menahannya, atau larangan dari penguasa yang zhalim, kemudian tidak menunaikan haji, hendaklah ia mati dalam keadaan menjadi orang Yahudi jika ia mau, dan jika mau maka menjadi orang Nasrani”. (HR Ahmad, Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)

 

Dari Umar bin Khathab, ia berkata : “Aku bertekad mengutus beberapa orang menuju wilayah-wilayah ini untuk meneliti siapa yang memiliki cukup harta namun tidak menunaikan haji, agar diwajibkan atas mereka membayar jizyah[4]. Mereka bukanlah muslim. Mereka bukanlah muslim”. (HR Al Baihaqi dan Said di Sunan-nya)

 

 

Hikmah dan Keutamaan Pelaksanaan Haji dan Umroh

Beberapa diantara hikmah dan keutamaan haji dan umroh diantaranya :

 

1)      Balasan haji yang mabrur adalah surga dan antara dua umroh adalah penghapus dosa

 

عن ابي هريرة رضي الله عنه انّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال : العمرة الى العمرة كفّارة لما بينهما والحجّ المبرور ليس له جزاء الّا الجنة (متّفق عليه)

Artinya : Dari Abu Hurairoh RA; Bahwa Rosulullah SAW bersabda “Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga” (Muttafaqun ‘alaih)

 

2)      Menghilangkan ke fakiran

تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبِ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ حَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ وَمَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَظَلُّ يَوْمَهُ مُحْرِمًا إِلاَّ غَابَتِ الشَّمْسُ بِذُنُوْبِهِ

Artinya : “Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.” (HR-Attirmidzi)

 

3)      Keutamaan Sholat di Masjidil Harom dan Masjid Nabawi

 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah SAW bersabda: Shalat di masjidku ini lebih afdhal dari 1000 sholat di masjid lainnya kecuali masjid Haram, dan sholat di masjid Haram lebih afdhal dari 100.000 sholat di masjid lainnya. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

4)      Di Ijabahnya do’a di Multazam :

Rosulullah SAW bersabda “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tidak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan.” (HR. Ahmad)

5)       Berziarah ke Raudhoh : Salah satu tempat mustajabah, Rasulullah SAW Bersabda :  “Diantara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman sorga, dan mimbarku diatas telaga Haudh” (Shahih Bukhari). Al Imam Ibn Hajar mengatakan sebagian ulama menjelaskan raudhah itu kelak akan dimunculkan oleh Allah dan dipindahkan di dalam surganya Allah Swt.

6)       Napak tilas perjuangan Rosulullah SAW dan para Nabi sebelumnya, khususnya berziarah ke makam Rasulullah SAW, akan membawa nuansa dan heroisme keimanan tersendiri. Airmata tidak akan dapat ditahan mengingat perjuangan dan serta derita yang dipikul oleh sang pembawa Risalah agama ini.

Wallahu A’lam


[1] Disampaikan pada Kajian Jum at Malam, Majlis Ta’lim Ibu-Ibu RT 03 Gardenia

[2] Didalam Alqur an terdapat ayat “Manis Tatho’a ilaihi sabiila

[3] Dari Kitab Bulughul Marom Kitabul Hajj

[4] adalah pajak yang dikenakan kepada   penduduk non-Muslim pada suatu negara

Categories: Pengajian Umum
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: