Home > Fiqih, Kitab Safinatun Naja > BAHASAN FIQIH KITAB SAFINAH – WUDHU DAN HUKUM-HUKUMNYA BAG I[1]

BAHASAN FIQIH KITAB SAFINAH – WUDHU DAN HUKUM-HUKUMNYA BAG I[1]

 

Definisi

Dari segi bahasa; wudhu artinya selamat atau bersih. Sedangkna dalam istilah syar’i wudhu adalah Wudhu’ adalah sebuah ibadah ritual untuk mensucikan diri dari hadats kecil dengan menggunakan media air. Yaitu dengan cara membasuh atau mengusap. Wudhu merupakan hal yang sangat penting dalam sholat

Dasar Syar’i

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki (QS Almaidah : 6)

Dalam Hadits :

عن ابي هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : لا صلاة لمن لا وضوء له ولا وضوء لمن لا يذكر اسم الله (رواه احمد وابو داود وابن ماجة)

Artinya : Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda,”Tidak ada shalat kecuali dengan wudhu’. Dan tidak ada wudhu’ bagi yang tidak menyebut nama Allah. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Hukum Wudhu

 

Hukum wudhu itu bisa menjadi wajib dan menjadi sunnah, tergantung konteks kita melaksanakannya.

1. Hukum Wudhu Wajib

Hukum wudhu` menjadi fardhu atau wajib manakala seseorang akan melakukan hal-hal berikut ini

1)      Ketika hendak akan melaksanakan sholat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki (QS Almaidah : 6)

Didalam hadits Rosulullah SAW bersabda : Shalat kalian tidak akan diterima tanpa kesucian (berwudhu`) (HR.Bukhari dan Muslim)

2)      Untuk Menyentuh Mushaf Al-Quran

لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ

Artinya : Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. (QS Al Waqiah Ayat 79)

Ada hadits Abdullah bin Abi Bakar bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada ‘Amr bin Hazm tertulis : Janganlah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci”.(HR. Malik)[2]

3)      Thawaf

Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum berwudhu` untuk tawaf di ka`bah adalah fardhu. Kecuali Al-Hanafiyah.

Hal itu didasari oleh hadits Rasulullah SAW yang berbunyi : Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Tawaf di Ka`bah itu adalah shalat, kecuali Allah telah membolehkannya untuk  berbicara saat tawaf. Siapa yang mau bicara saat tawaf, maka bicaralah yang baik-baik.(HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Tirmizy)

2. Hukum Wudhu Sunnah

Wudhu hukumnya sunnah dalam kondisi-kondisi berikut ini :

1)      Mengulangi wudhu` untuk tiap shalat

Mengulangi wudhu atau memperbaharui wudhu (tajdiidul wudhu) ketika setiap akan sholat walaupun kita masih suci (masih punya wudhu) hukumnya sunnah berdasarkan Sabda Rosulullah SAW berikut ini :

عن هبي هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : لو لا ان اشقّ على امّتي لامرتهم عند كلّ صلاة بوضوء, ومع كلّ وضوء بسواك (رواه احمد باسناد صحيح)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Seandainya tidak memberatkan ummatku, pastilah aku akan perintahkan untuk berwudhu pada tiap mau shalat. Dan wudhu itu dengan bersiwak. (HR. Ahmad dengan isnad yang shahih)

Juga disunnahkan  bagi tiap muslim untuk senantiasa menjaga wudhu (kesucian) dalam setiap kondisi dan waktu, jika  memungkinkan. Bukan merupakan sebuah keharusan melainkah sunnah yang baik untuk diamalkan.

Dari Tsauban bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Tidaklah menjaga wudhu` kecuali orang yang beriman`. (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, Ahmad dan Al-Baihaqi)

2)      Ketika akan tidur

Berdasarkan Hadits Rosulullah SAW :

Dari Al-Barra` bin Azib bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila kamu naik ranjang untuk tidur, maka berwudhu`lah sebagaimana kamu berwudhu` untuk shalat. Dan tidurlah dengan posisi di atas sisi kananmu . (HR. Bukhari dan Tirmizy).

3)      Sebelum Mandi Janabah

Sebelum mandi janabat disunnahkan untuk berwudhu` terlebih dahulu. Dasarnya adalah sabda Rosulullah SAW :

Dari Syyidatina ‘Aisyah “Adalah Rasulullah  bila hendak mandi janabah, beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air dan menyela-nyela pangkal rambutnya dengan jari-jemari yang telah dibasahi air tersebut. Setelahnya beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga tuangan dengan kedua tangan beliau (menciduknya), kemudian barulah menuangkan air ke seluruh tubuh beliau. (HR. Bukhori-Muslim)

4)      Seseorang Dalam Keadaan Junub akan melakukan aktifitas lain selain mandi

Demikian juga disunnahkan berwudhu` bila seorang yang dalam keaaan junub mau makan, minum, tidur atau mengulangi berjimak lagi. Berdasarkan sabda Rouslullah SAW :

Dari Sayyidatina Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila dalam keadaan junub dan ingin makan atau tidur, beliau berwudhu` terlebih dahulu. (HR. Ahmad dan Muslim)

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila ingin tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu` terlebih dahulu seperti wudhu` untuk shalat. (HR. Jamaah)

Dan dasar tentang sunnahnya berwuhdu bagi suami istri yang ingin mengulangi hubungan seksual adalah hadits berikut ini :

Dari Abi Said al-Khudhri bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila kamu berhubungan seksual dengan istrimu dan ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah berwuhdu terlebih dahulu.(HR. Jamaah kecuali Bukhari)

5)      Ketika di timpa Amarah

Untuk meredakan marah, ada dalil perintah dari Rasulullah SAW untuk meredakannya dengan membasuh muka dan berwudhu`.

Bila kamu marah, hendaklah kamu berwudhu`. (HR. Ahmad dalam musnadnya)

6)      Ketika Melantunkan Bacaan Al-Qur an

Hukum berwudhu sebelum membaca atau melantunkan ayat Alqur-an tanpa memegang mushaf Al-qur an adalah sunnah. Berbeda hukumnya dengan memegang mushaf yang wajib hukum wudhunya menurut jumhur ulama.

Demikian juga hukumnya sunnah bila akan membaca hadits Rasulullah SAW serta membaca kitab-kitab syariah[3]

Diriwayatkan bahwa Imam Malik ketika mengimla`kan pelajaran hadits kepada murid-muridnya, beliau selalu berwudhu` terlebih dahulu sebagai takzim kepada hadits[4]

Bersambung


[1] Disampaikan Pada Pengajian Kaum Ibu RT 03 Gardenia Ext-Citra Raya

[2] Malik meriwayatkan hadits ini secara mursal, namun An-Nasa’i dan Ibnu Hibban

mengatakan bahwa hadits ini tersambung. Setidaknya hadits ini ma’lul

[3] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili

[4] Ust. Sarwat dalam Fiqih Thoharoh

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: