Home > Fiqih > BAHASAN FIQIH – KITAB KIFAYATUL AKHYAR- ANJURAN BERSIWAK[1]

BAHASAN FIQIH – KITAB KIFAYATUL AKHYAR- ANJURAN BERSIWAK[1]

Definisi

Kata siwak dalam bahasadigunakan untuk menunjukan pekerjaan bersiwak dan alat yang digunakan untuk bersiwak. Yang dimaksud bersiwak adalah menggosok gigi dengan karu arak.sugi dengan niat untuk membersihkan gigi.

Dasar Pensyariatan

Menurut jumhur ulama hukum bersiwak adalah Sunnah. Berdasarkan beberapa hadits dibawah ini.

السّواك مطهرة للفم مرضاة للرّبّ

Artinya “Bersiwak itu mensucikan mulut dan menimbulkan keridhoan Allah سبحانه وتعالى

Hadits ini soheh diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan An-Nasa’I dengan isnad yang soheh pula.

Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sayyidatina ‘Aisyah rodhiyallahu anha, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “ Ada sepuluh kebiasaan baik adalah mencukur kumis (1), memelihara jenggot (2), bersiwak (3), membersihkan hidung dengan air (4), mencuci jemari (5), memotong kuku(6), mencabut bulu ketiak (7), mencukur bulu pubis (8) dan menyiram kemaluan setelah berwudhu(9)” Zakariya bin Zaidah berkata yang terlupa dalam hadits ini adalah berkumur.[2]

Alat Bersiwak

Alat yang yang di sunnahkan untuk bersiwak yang paling utama adalah dengan menggunakan kayu arak ydan lebih diutamakan lagi dengan kayu yang dibasahi terlebih dahulu karena mutaba’ah kepada Rosulullah SAW. Bersiwak juga dapat menggunakan alat lain yang kasar seperti sobekan kain, sikat gigi atau alat lain yang sekiranya dapat membersihkan mulut.

Makruh hukumnya bersiwak dengan menggunakan logam, jarum atau alat lain yang tajam.  Di sunnahkan mencuci alat siwak jika hendak digunakan kembali.

Waktu-waktu yang di Anjurkan

Secara umum siwa di sunnahkan pada tiga kondisi :

  1. Ketika mengalami bau mulut disebabkan lamanya dia atau lainnya
  2. Ketika bangun dari tidur
  3. Ketika berdiri hendak sholat

Dalil-dalil kesunnahan :

يشوص فاه باسّواك (رواه بخاري ومسلم)

Beliau (Rosulullah SAW) membersihkan mulutnya dengan bersiwak” (HR. Bukhori-Muslim)

Dalam hadits yang lain Rosulullah SAW bersabda :

لولا أن اشقّ على امّتي لأمرتهم باسّواك عند كلّ صلاة (رواه بخاري ومسلم )

Artinya “Andaikan saja aku tidak khawatir akan memberatkan umatku, tentu sudah kuperintahkan mereka supaya bersiwak tiap-tiap hendak sholat.

Hadits yang senada juga dari Sayyidatina ‘Aisyah RA :

ركعتان بالسّواك أفضل من سبعين ركعة بلا سواك (رواه ابو نعيم)

Artinya “Dua  rokaat dengan bersiwak itu lebih utama daripada tujuh puluh rokaat tanpa siwak” (HR Abu Nu’aim)

Dalam hal hendak sholat tidak ada perbedaan antara sholat fardhu dan Sholat Sunnah.

Di sunnahkan juga ketika hendak akan Wudhu  :

لولا أن اشقّ على امّتي لأمرتهم باسّواك عند كلّ وضواء (رواه النّساءى)

Artinya : “Andaikan saja aku tidak khawatir akan memberatkan umatku, tentu sudah kuperintahkan mereka supaya bersiwak tiap-tiap hendak wudhu” (HR An-Nasa’i)

Ibnu khuzaimah menganggap riwayat hadits ini shohih. Dari hadits ini pula para ulama mensunnahkan bersiwak ketika hendak mebaca al-qur an, hadits, belajar berdzikir, ketika akan tidur karena pada kondisi-kondisi tersebut diwajibkan atau di sunnahkan untuk berwudhu.

 

 

Cara Bersiwak

 

Dikatakan dalam kitab kifayatul akhyar, disunnahkan bersiwak dengan menggunakan tangan kanan dan memulai dari mulut bagian kanan pula. Ada hadits pula yang berbunyi “Ketika kalian bersiwak, bersiwaklah dengan posisi melebar”[3]. Dianjurkan dimulai dari sisi sebelah kanan mulut dan berakhir di tengah, lalu dilanjutkan dengan menggosokkan siwak di rongga mulut bagian atas dan mengulangi hal yang sama pada bagian sebelah kiri[4]

Hukum Bersiwak Untuk Orang Yang Berpuasa

Ulama ber ikhtilaf tentang hukum bersiwak untuk orang yang berpuasa. Beberapa pendapat mereka adalah :

  1. Makruh Bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah Zawal  (tergelincirnya matahari). Demikian dikatakan oleh Imam Rofi’I dalam kitab Ar-Raudhoh dan menurut jumhur ulama Syafi’i. Didasarkan kepada Hadits :

لخلوف فم الصّائم اطيب عند الله من ريح المسك (رواه البخاري)

Artinya :”Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah daripada bau harumnya minyak misik” (HR. Bukhori)

2.Tidak Makruh secara muthlak menurut imam yang tiga yaitu : Imam Maliki, Hanbali dan Hanafi, dan Imam Nawawi pun sepakat dengan pendapat ini sebagaimana dikatakan olehnya dalam syarah Muhadzzab.

3.Makruh pada puasa Fardhu tetapi tidak makruh pada puasa sunnah, demikian menurut Al-Qadhi Husein.

Hikmah Bersiwak

Diantara manfaat bersiwak adalah membersihkan mulut, mencari Ridho Allah, Membersihkan gigi, menghilangkan bau mulut, menegakkan punggung, menguatkan gusi, memperlambat penuaan, memperindah tubuh, mencerdaskan pikiran, meningkatkan pahala, memudahkan keluarnya ruuh (ketika seseorang akan meninggal dunia) dan melancarkan bacaan dua kalimat syahadat bagi orang yang sekarat.[5]


[1] Disampaikan pada Kajian Malam Jum at , di  XP 15/31 Perum Gardenia Ext. Citra Raya

[2] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqhus Syafi’I Al Muyassar

[3] HR Abu daud dalam kitab Marasil-nya

[4] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqhus Syafi’I Al Muyassar

[5] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqhus Syafi’I Al Muyassar

Categories: Fiqih
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: