Untuk Siapakah Kita ber Amal ?

February 16, 2013 Leave a comment

Sahabat fillah, sejenak kita renungkan firman Allah سُبْحا نَهُ وَتَعَالَى dalah surat Alfurqon ayat 23 :

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu akan kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”

Artinya; banyak amal soleh manusia yang sia2x dihadapan Allah سُبْحا نَهُ وَتَعَالَى, yaitu amaliah yg dikerjakan bukan karena Allah ta’ala, maka Allah membatalkan pahalanya.

Rosulullah صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّم  bersabda :
“Sesuatu yg paling aku takutkan adalah syirik kecil, Sahabat bertanya ‘wahai Rosulullah apakah syirik kecil itu ? Beliau bersabda ‘RIYA’. Allah ta’ala akan berfirman kepada mereka pada hari dibalasnya hamba atas amal2x mereka: “Pergilah kamu kepada orang yang kamu pameri sewaktu di dunia, maka lihatlah apakah kamu dapat memperoleh suatu kebaikan dari mereka” (HR. Abu Laits)

Riya adalah sifat pamer kepada org lain, berbuat amal bukan untuk Allah tetapi untuk dilihat manusia, dihargai manusia, dipuji manusia. Riya lawan  dari Ikhlas.

Sayyidina ‘Ali berkata : bagi orang riya itu ada 4 tanda :

1. Malas beramal jika sendirian
2. Rajin beramal bila dalam keramaian
3. Meningkatkan amal jika dipuji
4. Mengurangi amal jika mendapat celaan

Syaqiq Bin Ibrahim Az-zahid berkata, benteng amal itu  ada 3:
1. Hendaklah berkeyakinan bahwa segala amal itu terjadi semata2x  karunia Allah
2. Hendaknya amal itu mengharapkan ridho Allah semata untuk  menghilangkan hawa nafsu
3. Berharap balasan hanya dari Allah سُبْحا نَهُ وَتَعَالَى (Ikhlas)

Jika Roboh benteng, maka rusaklah amal.

Seorang bijak berkata : sebaiknya orang beramal itu mengambil contoh dari penggembala kambing, Kenapa ? Karena penggembala kambing itu, tdk mencari pujian dari kambing, tapi dari tuannya. Demikian pula org beramal hendaknya ia tidak memperdulikan pujian manusia thdpnya, sehingga akan sama saja baik ada org lain maupun dalam kesendirian, baik dipuji maupun dicela.

وَاللّه اَعْلَمُ

Categories: Pengajian Umum

Bagaimana Posisi Duduk Tahiyat Akhir ?

February 14, 2013 Leave a comment

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr. wb.
Pada shalat dengan bilangan 3 atau 4 rakaat (shalat Maghrib, Isya, Dluhur, dan Ashar) ada tahiyat awal dan tahiyat akhir. Pada tahiyat awal,  posisi duduknya dengan iftirasy, yaitu kaki kiri tepat di bawah pantat, sedang tahiyat akhir, posisi duduknya dengan tawarruk, yaitu kaki kiri  menyilang bersentuhan dengan kaki kanan.

Pertanyaan saya adalah, untuk shalat dengan 2 rakaat misalnya shalat Subuh, apakah posisi  duduknya dengan duduk iftirasy karena dalam shalat dua rakaat tersebut tidak ada tahiyat akhir, atau dengan cara duduk tawarruk terus salam  karena idak ada tahiyat awal.

Jawab :

Waalaikum salam Warohmatullahi wabarookaatuh;

Sebelum jauh menjawab, maka perlu dibuat tegas bahwa permasalahan yang ditanyakan adalah masalah Khilafiyah klasik, khilafiyah ini terjadi antara madzhab Hanabiliyah (Imam Ahmad Bin Hanbal dan Madzhab As-Syafi’iyah (Muhammad Bin Idris As-Syafi’i. Dengan tanpa maksud menghakimi salah satu pendapat, maka berikut ini menurut pendapat yang penulis condong kepadanya. Read more…

Categories: Fiqih

KISAH LELAKI 100 NYAWA [1]

February 4, 2013 Leave a comment

وعن ابي سعيد سعد ابن مالك بن سنان ألخدريّ رضي الله عنه انّ نّبيّ ﷺ قال : كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفسا فسأل عن اعلم اهل لارض فدلّ على راهب فاتاه فقال انّه قتل تسعة وتسعين نفسا فهل له من توبة ؟ فقال “لا” فقتله فكمّل به مأئة. ثمّ سأل عن اعلم اهل الارض فدلّ على رجل عالم فقال انّه قتل مأئة نفس فهل له من توبة. فقال “نعم” ومن يحول بينه وبين التّوبة انطلق الى ارض كذا وكذا فانّ بها اناس يعبدون الله الله تعالى فاعبد الله معهم ولا ترجع الى ارضك فانّها ارض سوء, فانطلق حتّ اذا نصف الطّريق اتاه الموت فاختصمت به ملائكة الرّحمة وملائكة العذاب فقالت ملائكة الرّحمة جاء تائبا مقبلا بقلبه الى الله تعالى, وقالت ملائكة العذاب انّه لم يعمل خيرا قطّ, فاتاهم ملك في صورة ادميّ فجعلوه بينهم اي حكما. قال قيسوا مابين الارضين فالى ايّتهما كان ادنى فهو له.

فقاسوا فوجدوه ادنى الى الارض الّتي اراد فقبضته ملائكة الرّحمة (متّفق عليه)

 

Arti hadits :

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu, Sesungguhnya Rasululloh SAW menceritakan dalam sabdanya :


“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang membunuh 99 jiwa, lalu ia bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah), lalu ia mendatangi rahib tersebut dan berkata, ‘Jika ada orang yang membunuh 99 jiwa, apa taubatnya bisa diterima?’ Rahib pun menjawab, ‘Tidak.’ Lalu orang tersebut membunuh rahib itu sehingga genap sudah dia membunuh 100 nyawa. Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang ‘alim, lalu dia berkata, ‘Jika ada orang telah membunuh 100 jiwa, apakah masih ada pintu taubat untuknya?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya
 Siapakah yang menghalangi nya untuk bertaubat? Pergilah ke daerah ini karena di sana terdapat sekelompok orang yang menyembah Alloh Ta’ala, maka sembahlah Alloh bersama mereka dan janganlah kembali ke daerahmu yang dulu karena daerah tersebut adalah daerah yang jelek.’ Laki-laki ini lantas pergi menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut. Ketika sampai di tengah perjalanan, maut menjemputnya. Maka terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini pergi untuk bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Alloh’. Sedangkan malaikat azab berkata, ‘Sesungguhnya orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun’. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai juru damai. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju, pen.), daerah yang jaraknya lebih dekat, maka daerah tersebut yang berhak atas orang ini.’ Mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan teryata orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju, Oleh karena itu ruhnya dibawa oleh malaikat rahmat.” (Muttafaqun ‘alaihi – HR. Bukhari 3211, Muslim 4967) [2] Read more…

BAHASAN III : HUKUM MIM MATI (SAKINAH)[1]

January 31, 2013 Leave a comment

Definisi :

Mim mati (sakinah)  adalah huruf mim (  م )  yang tidak berharokat. Hukum mim sakinah adalah cara membaca mim ketika bertemu dengan huruf  hijaiyah yang lainnya baik ketika washl maupun waqof.

 

Mim mati dapat bertemu dengan huruf hijaiyyah setelahnya kecuali tiga huruf madd yaitu : alif, waw dan ya [  و- ا- ي ]. Mim sakinah tidak dapat jatuh sebelum huruf madd karena akan terjadi pertemuan dua huruf mati dan hal ini mustahil terjadi dalam bahasa arab karena tidak dapat dibaca dan diucapkan.

Read more…

Categories: Ilmu Tajwid

BAHASAN II : HUKUM NUN MATI DAN TANWIN

January 31, 2013 Leave a comment

Didalam membaca Al-Qur an kita akan banyak mendapatkan nun mati atau tanwin dalam setiap ayat. Pengucapan nun mati dan tanwin di dalam mebaca alquran memiliki beberapa hokum yaitu :

  1. Dibaca Jelas (Idzhar)
  2. Dibaca samar (Ikhfa)
  3. Dibaca lebur (idghom)
  4. Dibaca berubah menjadi mim (Iqlab)

Mari kita bahas satu persatu dari macam-macam cara pengucapan nun mati atau huruf yang berharokat tanwin (fathatain, kasrotain dan dhommatain)

  1. IDZHAR, secara bahasa artinya Jelas. Sedangkan menurut ilmu tajwid yaitu pembacaan nun mati atau tanwin yang sesuai dengan makhrojnya (jelas, tegas) tanpa menggunnahkan, menyamarkan atau merubah nya kedalam huruf lain. Hal ini terjadi apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari Huruf Idzhar Read more…
Categories: Ilmu Tajwid

BAHASAN I : MUQODDIMAH ILMU TAJWID[1]

January 31, 2013 Leave a comment

Definisi Ilmu Tajwid

Kata Tawid secara bahasa artinya membaguskan, sedangkan menurut  istilah disini adalah :

اخراج كلّ حرف من مخرجه مع اعطا ئه حقّه ومستحقّه

 

Artinya : Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan memberikan haknya dan mustahiknya. [2]

 

Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersamanya seperti jahr, isti’la, dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahik huruf adalah sifat huruf yang namoak sewaktu-waktu seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa dan lain sebagainya.

 

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum mempelajari Ilmu tajwid secara teori adalah Farrdhu Kifayah[3]  sedangkan membaca Al Qur an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid hukumnya fardhu ‘ain.

Jadi bisa saja terjadi seseorang membaca Al Qur an dan bacaan bagus serta benar, namun sama sekali ia tidak mengetahui istilah-istilah ilmu tajwid seperti idzhar, mad wajib, mad jaiz dan lain sebagainya. Maka baginya sudah cukup apabila muslimin yang lain sudah banyak yang mempelajari ilmu tajwid. Read more…

Categories: Ilmu Tajwid

BAHASAN FIQIH BAG II – FARDHU-FARDHU WUDHU[1]

December 19, 2012 Leave a comment

 Kata fardhu pada wudhu sama artinya dengan kata rukun pada sholat.  Rukun adalah perbuatan yang hukumnya wajib dilakukan dan menjadi bagian utuh dari rangkaian ibadah. Sedangkan syarat adalah bagian ibadah yang wajib dilakukan namun bukan bagian dari rangkaian gerakan ibadah

 

Jumlah Fardhu  Wudhu

Jumlah fardhu wudhu menurut madzhab syafi’i ada 6 perkara. Demikian dikatakan dalam kitab safinatunnajah dan kifayatul akhyar yang sedang menjadi pembahasan kita. Para ulama madzhab berbeda pendapat mengenai jumlah fardhu wudhu. Berikut ini tabel perbandingan jumlah fardhu wudhu menurut para ulama madzhab[2] :

 

Fardhu

Hanafi

Maliki

Syafi’i

Hanbali

Niat

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Membasuh Wajah

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Membasuh Tangan

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Mengusap Kepala

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Membasuh Kaki

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Fardhu

Tertib

Fardhu

Fardhu

Muwalat

Fardhu

Fardhu

Ad-Dalk

Fardhu

JUMLAH

4

7

6

7

 

1)      Niat

Niat secara etimologi adalah  القصد“ sengaja” atau “menyengaja” sedangkan menurut  istilah syara’ yaitu :

 

قصد الشىء مقترنا بفعله

Artinya : Menyengaja melakukan sesuatu yang diiringi dengan tindakan.

Niat wudhu’ adalah ketetapan di dalam hati seseorang untuk melakukan serangkaian ritual yang bernama wudhu’ sesuai dengan apa yang ajarkan oleh Rasulullah SAW dengan maksud ibadah. Sehingga niat ini membedakan antara seorang yang sedang memperagakan wudhu’ dengan orang yan sedang melakukan wudhu. Read more…

Categories: Fiqih